Situs resmi Perkumpulan ISKCON di Indonesia
Surat Edaran Tentang Penyelarasan Interaksi Sosial

Perkumpulan ISKCON di Indonesia

Image
Cover - iskcon.id

Om Swastyastu, Hare Krishna

Para bhakta Krishna dalam Perkumpulan ISKCON yang kami hormati,

Terimalah sembah sujud kami! Segala pujian kepada Srila Prabhupada!

Kami, Dewan Pengurus Perkumpulan ISKCON, atas petunjuk dan arahan Governing Body Commissioner (GBC) untuk Perkumpulan ISKCON di Indonesia, menyampaikan arahan penting berikut.

Sebagaimana diketahui, Perkumpulan ISKCON di Indonesia khususnya di Bali menghadapi tantangan yang serius. Beberapa orang secara terbuka menuduh bahwa ISKCON bukanlah bagian dari Hindu. Baru-baru ini, sebagian komponen masyarakat Hindu Bali telah menuntut kepada PHDI agar pengayoman kepada ISKCON dicabut.

ISKCON pernah menghadapi tantangan serupa sebelumnya. Di Indonesia, dan di belahan dunia lain termasuk Amerika, Rusia, Inggris, Hungaria, dan Australia, ada pihak-pihak yang terkadang menentang keabsahan kita. Bahkan pada masa Sri Caitanya Mahaprabhu ada penentangan terhadap gerakan kita. Belakangan, Srila Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakur dan Srila Prabhupada pun menghadapi penentangan serupa. Namun, dalam setiap situasi ini, tradisi Gaudiya Waisnawa kita terbukti dapat mengatasinya. Dan, secara bertahap, seiring berkembangnya pemahaman, gerakan kita mendapat apresiasi dari para pemimpin dan masyarakat luas.

Di Bali juga, terjadi kesalahpahaman dan kita dituduh secara keliru atas niat yang buruk dan perilaku yang merugikan. Sementara kita menyadari bahwa masih ada ketidaksempurnaan dalam organisasi, dan anggota kita masih ada yang melakukan kesalahan. Anggota-anggota ISKCON — dalam keinginan tulusnya untuk melayani masyarakat dan berbagi karunia rohani yang telah diterima — terkadang terlalu bersemangat dan melanggar aturan lokal tentang etika, kesantunan, dan rasa hormat. Perilaku seperti itu telah meningkatkan ketegangan.

Pendiri-Acarya kita, Srila Prabhupada, memerintahkan kita untuk bertindak sesuai dengan waktu, tempat, dan keadaan. Untuk itu, ISKCON terkadang perlu melakukan penyesuaian, baik secara individu maupun secara organisasi. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk kita melakukan penyesuaian tersebut.

Ketika pertama kali kembali ke India dengan murid-murid baratnya, Srila Prabhupada menghentikan harinama di jalanan karena orang-orang salah memahami kita sebagai pengemis. Sebelumnya, Srila Prabhupada menghentikan kirtan di pelataran Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) saat unjuk rasa damai yang beliau hadiri, ketika diberitahu oleh panitia bahwa itu adalah aksi diam. Sebaliknya, beliau menyuruh para pengikutnya untuk melantunkan japa dengan lembut. Ada banyak contoh Srila Prabhupada, dan kemudian para pemimpin ISKCON lainnya, menyesuaikan praktik kita di berbagai negara untuk memastikan hidup berdampingan yang legal dan damai.

Terkait interaksi kita dengan komunitas agama lain, Srila Bhaktivinode Thakura menulis bahwa, “Tidaklah pantas untuk terus-menerus menyebarkan superioritas kontroversial dari para guru dari negara kita sendiri atas orang-orang dari negara lain meskipun seseorang mungkin memiliki kepercayaan seperti itu yang tidak seharusnya... Tapi tidak ada kebaikan untuk dunia yang bisa didapat dari pertengkaran seperti itu. "(Sri-Caitanya-Siksamritam, p. 7)

Srila Prabhupada menulis bahwa: "Hal penting lain yang disebutkan berhubungan dengan hal ini adalah anindaya [menghindari melakukan penghinaan] —kita tidak boleh mengkritik tata cara agama orang lain ... Daripada mengkritik sistem semacam itu, seorang bhakta semestinya mendorong mereka untuk berpegang pada prinsip mereka. (Srimad Bhagavatam 4.22.24 penjelasan)

Maka dari itu, memahami kepekaan dan perasaan masyarakat Bali, serta merefleksikan kebijaksanaan para acarya kita, kami menegaskan kepada para bhakta dalam Perkumpulan ISKCON di Bali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya sebagai berikut:

1. Hormati budaya lokal, adat istiadat dan bentuk persembahyangan di Bali, baik dengan kata-kata maupun tindakan.

Meskipun kita memiliki tatacara persembahyangan dan seva sendiri, kita harus menghormati orang lain, dan terutama tradisi setempat. Sri Caitanya mengajarkan bahwa kita harus menyebut nama Tuhan dalam sikap pikiran yang rendah hati, berpikir diri kita "lebih rendah dari rumput di jalan" dan siap untuk memberikan "segala rasa hormat kepada orang lain."

2. Hindari mengkritik orang lain dalam ceramah, pernyataan-pernyataan publik, di ashram, di media sosial atau di tempat umum lainnya.

Kita tetap berkomitmen pada nilai-nilai Vaishnava kita seperti tidak makan daging, ikan, atau telur. Tapi, kita juga ingat bahwa Srila Prabhupada hidup dengan orang non-vegetarian ketika beliau pergi ke Amerika, dan beliau memilih untuk tidak mengkritik kebiasaan keluarga angkatnya. Prabhupada juga tinggal selama beberapa waktu di ashram seorang guru non-Vaishnava di New York City. Meskipun sulit dan kesempatan beliau untuk berbicara terbatas, beliau tetap hormat, ramah, dan berterima kasih kepada tuan rumahnya.

3. Menjaga hubungan baik dan rasa hormat kepada anggota keluarga, terutama orang tua dan orang yang lebih tua lainnya.

Ketika seorang bhakta di Amerika membawa ibunya yang bukan bhakta untuk bertemu dengan Srila Prabhupada, Prabhupada memerintahkan muridnya untuk menyentuh kaki ibunya. Ada banyak contoh serupa lainnya bagaimana Prabhupada mengharapkan murid-muridnya menjadi, seperti yang beliau katakan, “Manusia bermartabat yang sempurna.”

4. Semua anggota komunitas kita, baik yang baru maupun yang sudah lama mengabdi, harus dilatih dan diingatkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai rasa hormat dan kerendahan hati dengan setiap orang yang mereka temui — terutama saat berinteraksi dengan masyarakat luas.

5. Pandemi Covid 19 telah menghentikan sebagian besar aktivitas publik kita. Di masa depan, ketika keadaan kembali normal, ashram dan bhakta ISKCON harus meminimalkan atau menyesuaikan setiap interaksi dengan publik yang dianggap tidak menghormati adat istiadat setempat. Sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat oleh berbagai pihak dalam komunitas Hindu yang diprakarsai oleh Dirjen Bimas Hindu dan PHDI Pusat tahun 2001 yang isinya bahwa masingmasing pihak / Ashram agar melakukan kegiatan kerohanian dan keagamaan dengan tatacara yang diyakini masing-masing serta dilaksanakan dalam lingkungan / tempat kegiatannya masingmasing.

6. Ashram di Indonesia harus melakukan penyesuaian sesuai kearifan lokal sebagaimana yang diteladankan oleh Srila Prabhupada untuk melaksanakan kesadaran Krsna dan memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.

Misalnya, selama masa-masa sulit ini, ISKCON menyediakan makanan prasada bagi jutaan orang yang membutuhkan di seluruh dunia. Melalui berbagai proyek Hare Krishna Food Relief (Bantuan Pangan Hare Krishna) — nama yang diberikan oleh Srila Prabhupada sendiri — kita dapat berusaha untuk memenuhi visi Prabhupada bahwa “tidak ada orang yang berada dalam jarak 10 mil dari Ashram ISKCON yang kelaparan.” Begitu pula dengan dampak pemanasan global, pentingnya ISKCON untuk menunjukkan “hidup sederhana dan berpikir tinggi” melalui visi Prabhupada tentang masyarakat pedesaan menjadi semakin besar.

Selain menyesuaikan perilaku kita sendiri untuk meminimalkan kesalahpahaman, Pengurus Perkumpulan ISKCON menangani situasi yang kita hadapi dengan berbagai langkah seperti menjalin kerjasama dan komunikasi serta memohon dukungan dari para pemimpin Hindu dan sampradaya lainnya, pemimpin agama, pemimpin pemerintah, dan akademisi untuk mencegah upaya perlakuan tidak semestinya terhadap kita.

Kita tahu bahwa ISKCON adalah bagian esensial dari agama Hindu yang bonafid. Kita juga tahu bahwa ISKCON memberikan banyak kontribusi positif di negara-negara tempat kita berada. Banyak tokoh penting yang menyatakan hal ini di seluruh dunia. Kita, di ISKCON, perlu melakukan upaya yang lebih baik lagi untuk membuat orang-orang menyadari keabsahan dan kontribusi kita. Berikut adalah salah satu contoh pemimpin yang memahami hal ini tentang kita:

“Yang Mulia A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada melakukan pekerjaan yang berharga, dan buku-bukunya merupakan kontribusi yang signifikan bagi keselamatan umat manusia.” (Sri Lal Bahadur Shastri, Mantan Perdana Menteri India)

Para Pemimpin di dalam Perkumpulan ISKCON akan melanjutkan upaya untuk berdialog dengan pemerintah, pemimpin agama dan budaya, termasuk mereka yang berseberangan dengan kita, untuk mencari solusi yang masuk akal. Dan, kita akan berusaha untuk menginformasikan kepada para pemimpin tersebut tentang sisi positif ISKCON, rasa hormat kita terhadap budaya Nusantara, dan keinginan kita untuk melayani masyarakat.

Kita tahu bahwa atas karunia Sri Krishna, dan karunia Srila Prabhupada, bersama-sama kita akan mengatasi kesulitan yang kita hadapi. Kami meminta agar setiap bhakta ISKCON memperhatikan kata-kata dan perilaku masing-masing untuk membantu kita mengatasi masalah ini. Dan, kami meminta pengertian, kesabaran, dan kerja samanya selama masa sulit ini.

Jika ada pertanyaan yang muncul tentang kebijakan dan arahan ini, silakan hubungi Ketua Umum, atau Sekretaris Umum, atau Departemen Komunikasi Perkumpulan ISKCON atau kirim email kepada kami di info@iskcon.id

Terima kasih.

Denpasar, 22 Oktober 2020

Hormat kami,

Dewan Pengurus & Pengawas Perkumpulan ISKCON.

Thumbnail
Document
Share This:
Logo Perkumpulan ISKCON Indonesia

Ucapkan

Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Niscaya Anda Bahagia!

iskcon.org | gbc.iskcon.org | news.iskcon.org | communications.iskcon.org


Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) di Indonesia 
Acarya-Pendiri His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada


Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI: AHU-0001067.AH.01.08.2019 | NPWP: 74.572.204.1-903.000
Kementerian Agama RI: 1230/DJ.VI/BA.00/07/2019 | Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat: 413/Parisada P/IV/2016
Members of ISKCON Governing Body Commission (GBC) are listed as Extraordinary Members of the Association